Remdesivir merupakan obat antivirus spektrum luas. Sebuah prodrug analog nukleotida baru, yang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Gilead Sciences. Awalnya digunakan sebagai pengobatan untuk infeksi penyakit virus Ebola dan virus Marburg. Meskipun ditemukan juga aktivitas antivirus terhadap yang lainnya. Termasuk virus kor-MERS

Remdesivir mampu menghambat kemampuan virus untuk bereplikasi di dalam tubuh. Uji pada hewan menunjukkan bahwa obat ini mampu melawan dua coronavirus yang mematikan.  Dua virus itu adalah Sars dan Mers, terutama ketika diberikan segera setelah gejala muncul. Hasil ini juga dikuatkan oleh hasil uji aktivitas in vitro dan in vivo pada hewan uji pada virus MERS dan SARS, yang juga merupakan coronavirus dan secara struktural mirip dengan COVID-19. Data praklinis yang terbatas tentang remdesivir pada MERS dan SARS menunjukkan bahwa remdesivir dimungkinkan memiliki aktivitas potensial terhadap COVID-19.

Ketika wabah koronavirus telah berkembang, banyak yang melihat bahwa remdesivir dapat digunakan sebagai obat. Selain itu juga merupakan pelopor dan salah satu dari sedikit obat yang memiliki prospek untuk dikembangkan. Sementara menunggu hasil uji klinik ini, dokter di AS, Cina dan Italia sudah menggunakan remdesivir untuk mengobati sejumlah kecil pasien dengan Covid-19 parah. Pasien AS pertama, seorang pria berusia 35 tahun di Snohomish County, Washington, pulih, tetapi percobaan penuh diperlukan untuk menilai apakah obat mengurangi keparahan gejala dan, yang terpenting, tingkat kematian.

Penulis : Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si., M.Si. (Dosen Teknologi Farmasi dan Peneliti di Nanopharmacy Research Centre, Jurusan Farmasi, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta)

Sumber: Wikipedia dan aapsnewsmegazine.