Wabah caronavirus 2019 (COVID-19) memunculkan penyakit yang ditandai sebagai sindrom pernafasan akut yang parah coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dengan karakteristik klinisnya adalah gejala pernapasan, demam, batuk, dispnea, dan pneumonia. Peristiwa ini juga mengungkapkan bahwa SARS-CoV-2 memiliki urutan genom yang 75% -80% identik dengan SARS-CoV, dan memiliki lebih mirip dengan beberapa coronavirus kelelawar.

Apa itu Virus?

Virus adalah mikroorganisme yang dapat menimbulkan sakit (patogen) yang dapat menginfeksi sel makhluk hidup. Virus hanya dapat bereplikasi di dalam sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri. Semua bentuk kehidupan dapat diinfeksi oleh virus, mulai dari hewan, tumbuhan, hingga bakteri dan mikroorganisme bersel satu. Ketika tidak berada di dalam sel atau tidak dalam proses menginfeksi sel, virus berada dalam bentuk partikel bebas (independen) yang disebut virion. Virion terdiri atas materi genetik berupa asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi lapisan protein yang disebut kapsid. Pada beberapa virus terdapat amplop eksternal yang terbuat dari lipid.

Replikasi merupakan cara virus untuk menginfeksi makhluk hidup dengan tahapan sebagai berikut: (1) pelekatan virus dengan molekul reseptor pada permukaan sel inang, (2) penetrasi, (3) pelepasan mantel, di mana kapsid virus baik seluruhnya maupun sebagian dipindahkan ke dalam sitoplasma sel inang, (4) replikasi genom dan ekspresi gen, (5) pembentukan komponen-komponen virion, (6) pematangan merupakan tahap dari siklus hidup virus dan bersifat infeksius, dan (7) melepaskan diri dari sel inang. Dengan demikian, obat-obatan yang efektif sebagai antivirus adalah yang mampu menghambat proses tahapan replikasi untuk pembentukan virus ini.

Pengenalan coronavirus

Virus-virus dari family coronaviridae memiliki satu untai tunggal (single-strand), RNA positif dan telah diidentifikasi di berbagai inang dan mamalia unggas, tujuh di antaranya dapat menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti MERS-CoV dan SARS-CoV . COVID-19 merupakan coronavirus baru yang belum diidentifikasi sebelumnya yang mirip dengan coronavirus yang bertanggung jawab untuk SARS-CoV, tetapi berbeda dengan MERS-CoV.

Untuk semua coronavirus termasuk COVID-19, setidaknya terdapat tiga protein struktural yang dibagi pada membran yaitu spike (S), protein membran (M) dan protein membran kecil (E). Selain itu, juga memiliki empat protein fungsional yang ditemukan di hampir semua coronavirus yaitu 3-chymotrypsin-like protease (3CLpro), protease-like papain (PLpro), RNA-dependent RNA polymerase (RdRp) dan helicase. Hal ini menunjukkan bahwa strategi untuk melawan infeksi COVID-19 adalah dengan menargetkan pada protein atau enzim ini.  Obat COVID-19 yang mulai beredar di Indonesia saat ini adalah Favipiravir dengan nama dagang Avigan dan Klorokuin.

Favipiravir (Avigan)

Favipiravir, atau yang dikenal dengan nama Avigan adalah obat antivirus yang dikembangkan oleh Toyama Chemical (anak perusahaan Fujifilm). Favipiravir (T-705) merupakan obat antivirus yang sangat menarik dibandingkan antivirus yang lainnya yang memiliki aktivitas spektrum luas terhadap virus RNA, termasuk virus influenza, rhino-virus, dan virus pada pernapasan, tetapi bukan virus DNA. Sebelumnya, favipiravir telah dikembangkan sebagai obat anti-influenza yang dilisensikan di Jepang. Selain itu, saat ini favipiravir juga sedang dikembangkan untuk pengobatan terhadap strain influenza baru. Keunggulan favipiravir sebagai obat antivirus adalah tidak adanya generasi virus yang resisten terhadap favipiravir.

Baru-baru ini telah dilakukan evaluasi yang komprehensif tentang kemanjuran klinis pengobatan untuk pasien COVID-19 di The Third People’s Hospital of Shenzhen. Pengkajian dilakukan dengan membandingkan efek klinis favipiravir dengan lopinavir/ritonavir pada pasien COVID-19. Temuan ini diharapkan dapat membantu memberikan panduan untuk perawatan klinis infeksi SARS-CoV-2.Temuan ini menunjukkan bahwa favipiravir memiliki efek pengobatan yang lebih baik pada COVID-19 dibandingkan dengan lopinavir/ritonavir. Favipiravir dikenal sebagai prodrug, merupakan suatu inhibitor RNA-dependent RNA polymerase (RdRp) baru, yang telah terbukti efektif dalam pengobatan influenza dan virus Ebola. Juga dilaporkan bahwa selain favipiravir remdesivir juga efektif dalam mengurangi infeksi SARS-CoV-2 secara in vitro.

Klorokuin

Klorokuin adalah bentuk amin asidotropik dari kina yang disintesis di Jerman oleh Bayer pada tahun 1934. Obat ini muncul sebagai pengganti kinin dari tumbuhan. Selama beberapa dekade, klorokuin adalah obat lini depan untuk pengobatan dan profilaksis malaria dan merupakan salah satu obat yang paling diresepkan di seluruh dunia. Klorokuin sulfat dan klorokuin fosfat telah dikomersialkan sebagai obat antimalaria. Hidroksiklorokuin juga telah digunakan sebagai antimalaria, tetapi selain itu sekarang banyak digunakan pada penyakit autoimun seperti lupus dan rheumatoid arthritis.

Publikasi terbaru menunjukkan bahwa klorokuin yang awalnya sebagai obat antimalaria dapat juga digunakan untuk mengobati pasien yang terinfeksi oleh novel coronavirus (SARS-CoV-2). Dari catatan yang ada klorokuin dan hidroksi klorokuin dianggap aman dan efek samping umumnya ringan dan sementara. Namun, klorokuin memiliki indeks terapi yang sempit sehingga penggunaan dengan dosis yang tidak tepat sangat rentan menimbulkan keracunan klorokuin diantaranya adalah gangguan kardiovaskular yang dapat mengancam jiwa. Oleh karena itu penggunaan klorokuin dan hidroksiklorokuin harus menggunakan resep dokter.

Aktivitas antivirus in vitro klorokuin telah diidentifikasi sejak akhir 1960-an dengan kemampuannya menghambat pertumbuhan berbagai virus dalam kultur sel, termasuk coronavirus SARS. Baru-baru ini, Wang dan rekannya telah mengevaluasi secara in vitro lima obat yang disetujui FDA dan dua antivirus spektrum luas terhadap isolat klinis SARS-CoV-2. Salah satu kesimpulan mereka adalah bahwa klorokuin sangat efektif dalam pengendalian infeksi Covid-19 secara in vitro. Namun perlu dilanjutkan dengan uji klinik dengan menggunakan manusia yang menderita penyakit virus coronavirus.

 

Penulis: Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si, M.Si. (Dosen Farmasi dan Peneliti pada Nanopharmacy Research Centre Jurusan Farmasi Universitas Islam Indonesia)

Sumber bacaan:

[1]    Y. Duan, H.-L. Zhu, C. Zhou, Drug Discov. Today 2020.

[2]   A. Cortegiani, G. Ingoglia, M. Ippolito, A. Giarratano, S. Einav, J. Crit. Care 2020.

[3]   F. Touret, X. de Lamballerie, Antiviral Res. 2020, 177, 104762.

[4]   M. Adnan Shereen, S. Khan, A. Kazmi, N. Bashir, R. Siddique, J. Adv. Res. 2020.

[5]   Q. Cai, M. Yang, D. Liu, J. Chen, D. Shu, J. Xia, X. Liao, Y. Gu, Q. Cai, Y. Yang, C. Shen, X. Li, L. Peng, D. Huang, J. Zhang, S. Zhang, F. Wang, J. Liu, L. Chen, S. Chen, Z. Wang, Z. Zhang, R. Cao, W. Zhong, Y. Liu, L. Liu, Engineering 2020.

[6]   K. Shiraki, T. Daikoku, Pharmacol. Ther. 2020, 107512.

[7]   C. A. Devaux, J.-M. Rolain, P. Colson, D. Raoult, Int. J. Antimicrob. Agents 2020, 105938.

[8]   https://id.wikipedia.org/wiki/Virus