Foto: Ilustrasi Swab Test Covid-19

Selama ini test swab PCR dianggap sebagai metode diagnostik standar untuk mengonfirmasi penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS Cov-2. Tes swab PCR-real time ini menggunakan sampel asam nukleat untuk memastikan keberadaan virus SARS-Cov2. Sebagaimana dilansir dalam suatu tinjauan sistematis, sensitivitas PCR untuk deteksi virus SARS-Cov2 mencapai 86% dengan nilai spesifisitas 96%. Test swab PCR ini lebih akurat dibandingkan yang lain misalnya pemeriksaan antigen yang mengukur protein atau pemeriksaan antibodi yang mengukur Imunoglobulin atau IgG dan IgM. Kedua pemeriksaan terakhir ini sering disebut rapid test, karena memberikan hasil yang cepat, namun akurasinya dipengaruhi oleh waktu paparan dan respon tubuh masing-masing.

Beberapa minggu terakhir ini kita dihebohkan dengan berita jamaah umroh Indonesia yang gagal menjalani ibadah umroh karena hasil swab PCR di Arab Saudi menunjukkan hasil positif. Hal ini tentu mengejutkan, karena jamaah umroh ini sudah menjalani swab PCR di Indonesia dengan hasil swab negatif. Selama ini kita mengenal tes swab sebagai pemeriksaan yang paling akurat untuk diagnostik Covid-19. Apa sebenarnya yang bisa mempengaruhi perbedaan hasil swab PCR untuk mendeteksi virus SARS-Cov2 ini?

Faktor Analisis

Beberapa faktor analisis yang mungkin mempengaruhi perbedaan hasil swab PCR, meliputi faktor pra analisis, proses analisis, dan pasca analisis; Faktor praanalisis meliputi teknik samping dan penyiapan spesimen, factor analisis berupa proses analisisnya, dan factor pasca analisis yaitu interpretasi hasil.

  1. Teknik sampling yang kurang tepat. WHO menetapkan lokasi pengambilan sampel ada di saluran napas atas tepatnya di nasofaring (bagian dari tenggorakan yang berada di belakang hidung) atau di orofaring. Tes gabungan usap nasofaringeal dan orofaringeal terbukti meningkatkan sensitivitas dan meningkatkan akurasi. Berdasarkan penelitian menemukan bahwa usap nasofaringeal memberikan hasil yang lebih handal dibandingkan orofaringeal. Spesimen saluran pernapasan bawah hanya dianjurkan pada pasien yang secara klinis diduga kuat mengalami COVID-19 dan dapat mengeluarkan sputum atau dahak secara spontan. Mengingat ketepatan sampling sangat penting, kemampuan atau ketrampilan dari tenaga kesehatan yang melakukan pengambilan sampel menjadi faktor penting yang juga perlu diperhatikan. Oleh karena itu, jangan menolak jika akan diambil sampel di nasofaring.
  2. Penyimpanan spesimen tidak terkontrol. Spesimen seharusnya segera disimpan ditabung tertutup sehingga terhindar dari kontaminasi virus. Jika tidak bisa langsung diujikan, spesimen harus disimpan 2-8 °C jika ≤12 hari-70 °C jika >12 hari. Ingatkan tenaga sampling untuk segera menutup tabung spesimen dan menyimpannya di suhu dingin.
  3. Proses analisis yang tidak valid. Validitas analisis dipengaruhi oleh ketepatan preparasi, instrument, dan metode. Laboratorium yang professional akan melakukan kontrol kualitas secara berkala, sehingga pilihlah laboratorium yang terpercaya.

Interpretasi

Interpretasi hasil swab PCR didasarkan atas nilai CT (Cycle threshold) yang menunjukkan frekuensi perubahan RNA virus menjadi DNA, sehingga pada satu titik diinterpretasikan sebagai hasil positif Covid-19. Nilai CT ini berbanding terbalik dengan kemampuan virus untuk menularkan ke orang lain. Berdasarkan laporan berbagai sumber, batas nilai CT yang digunakan laboratorium untuk menyatakan positif Covid-19 beragam, dari nilai <30 hingga <45. Hal ini menyebabkan perbedaan hasil atau kesimpulan Covid-19 ini. Apalagi, masyarakat umumnya hanya menggunakan hasil kualitatif berupa positif atau negatif saja, tanpa memperhatikan nilai CT. Sementara itu, hasil laboratorium juga jarang sekali menampilkan nilai CT. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa nilai CT >34 memberikan risiko penularan yang sangat rendah. Perbedaan interpretasi ini seharusnya mengingatkan pentingnya meminta nilai CT ketika kita menerima hasil swab PCR.

Ditulis oleh apt. Suci Hanifah, M.Si., Ph.D. (Dosen Jurusan Farmasi)