Bu Farida Hayati: Segala Tindakan Kita Sebaiknya Bernilai Ibadah

Ketika ditemui pada 2 Maret lalu, perempuan setengah  baya dengan kerudung merah itu tengah sibuk menandatangani beberapa ruangan di ruangannya. Ia, Farida Hayati, Wakil Dekan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia (UII). Ketika selesai dengan dokumennya, ia dengan ramah menyambut dan senang hati berbagi kisah hidupnya.

Perempuan yang lahir di Semarang pada 22 Mei 1974 ini dikenal sebagai satu di antara dosen pertama sekaligus Kepala Prodi pertama Prodi Farmasi UI. Ia mengisahkan, dulu ketika Prodi Farmasi UII hendak dibangun dengan pelopornya Bu Suparmi, ia menjadi satu di antara enam dosen yang pertama direkrut. “Padahal ketika itu saya masih belum menyelesaikan studi master saya di Farmasi Universitas Gadjah Mada”, ujarnya. Setelah lulus master Bu Farida langsung diangkat menjadi Kaprodi dengan usia  yang terhitung muda yaitu 26 tahun pada 1999, “Memang sih saya merasa saat itu saya diangkat jadi Kaprodi karena tidak ada orang lain lagi selain saya,” katanya berkelakar.

Walaupun menjadi Kaprodi dengan usia yang muda, tak menyurutkan semangatnya untuk membangun Prodi UII yang baru saja lahir. Ia masih ingat, bagaimana dulu para mahasiswa yang menjadi angkatan pertama begitu bersemangat. “Ada perasaan bahwa kita ini angkatan pertama dan harus membuktikan bahwa Prodi Farmasi ini bisa diperhitungkan,” kenangnya. Berbagai kendala dihadapi Bu Farida ketika menjadi Kaprodi Farmasi, satu di antaranya meyakinkan pihak universitas dan fasilitas yang masih minim. Namun, berkat rasa optimisnya pengajar Farmakologi ini mampu melewati semua kendala itu dan perlahan Prodi Farmasi UII mendapatkan pengakuan, dari status terakreditasi, akreitadi C, hingga sekarang akreditasi B.

“Saya tidak pernah menyangka saya diarahkan untuk bekerja di UII, dan saya bersyukur karena di sini semua yang dikerjakan adalah bagian dari ibadah,

Sebagai istri dan ibu, Bu Farida Hayati tak pernah melupakan peran yang harus dipenuhinya. Bu Farida menikah ketika sudah setahun menjabat Kaprodi Farmasi, yaitu tahun 2000, dan lama kemudian melahirkan seorang anak. Sekalipun sering tenggelam dalam kesibukan proses membangun Prodi Farmasi UII, tapi Bu Farida selalu memberikan pengertian pada keluarganya bahwa kegiatannya bekerja adalah bagian dari ibadah.  Suaminya pun mendukung, dan oleh karena suaminya juga dosen, maka tahu betul dunia dan kesibukan istrinya. “Selain itu saya juga sangat bersyukur bekerja di sini (FMIPA UII), yang pengertian bahwa saya sedang repot. Apalagi ketika anak sakit, di tempat lain belum tentu,” terangnya.

Oleh karena itu, bagi Bu Farida Hayati bekerja di UII menjadi pengalaman yang paling berharga dalam hidupnya. Ia berkisah, dulu ia sama sekali tak pernah menyangka akan bekerja dan berkarier di UII. Dulu ia sama sekali tak mengenal UII, dan dulu ia tak sedang mencari kerja karena ia masih menempuh studi master. “Saya tidak pernah menyangka saya diarahkan untuk bekerja di UII, dan saya bersyukur karena di sini semua yang dikerjakan adalah bagian dari ibadah,” katanya. Hal demikian juga menjadi prinsip hidup Bu Farida, bagi pengajar yang sedang meneliti tentang kangkung sebagai pengobat diabetes ini, “Semua tindakan yang kita lakukan sebaiknya adalah untuk ibadah, walaupun memang proses untuk menyadari hal tersebut bisa saja lama”.

Menjadi orang yang sedari awal berproses dalam dunia farmasi, lalu membesarkan Prodi Farmasi UII dari awal, Bu Farida selalu berpesan kepada mahasiswanya, “Belajar farmasi itu sulit, maka niatkan sedari awal untuk tetap bertahan belajar farmasi atau tidak. Farmasi adalah ilmu yang sulit, jangan mempelajarinya karena paksaan.” Ia pun mengakhiri pertemuan hari itu dengan salam perpisahan yang tak kalah ramahnya dari awal pertemuan.

One Comment

Leave a Reply