Bahasa IndonesiaBahasa Indonesia EnglishEnglish

Berita

SNEEDS Memodifikasi Sambiloto Jadi Antidiabetes

SNEEDS Dapat Memodifikasi Sambiloto Jadi Antidiabetes

 

 

Metode nanopartikel obat modern terbarukan, Self-Nano Emulsifying Drug Delivery System (SNEEDS) dapat digunakan untuk memodifikasi tanaman Sambiloto (andrographis paniculata) sebagai obat herbal antidiabetes. Namun sebelum menjadi obat herbal terstandar dibutuhkan uji efikasi yaitu uji disolusi dan uji difusi yang menggambarkan kelarutan isolat tersebut di dalam tubuh.

Itulah hasil penelitian Tim Program Studi Farmasi Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang berhasil memenangkan dana hibah Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-P) dari Kementerian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Tim PKM-P ini mengangkat judul ‘Efficient Method Analisis Sediaan Nanoherbal Andrograpolide untuk Uji Difusi dan Disolusi.’

Tim PKM-P yang diberi nama Tim PKM Andro beranggotakan Rizki Fajri (2013), Satria Dwi Setiawan (2014), Aldia Dwi Karina Ningrum (2015), dan Dwi Welda Afetma (2013). Tim yang dibawah bimbingan Yandi Syukri SSi, MSi Apt ini dinyatakan lolos monitoring dan evaluasi (Monev) eksternal, pertengahan Juli lalu dan berhak mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke 30 di Makassar, Sulawesi Selatan.

Dijelaskan Ketua Tim PKM Andro, Dwi Welda, isolat tanaman sambiloto perlu dimodifikasi dengan teknologi nanopartikel. Sebab isolat tanaman sambiloto memiliki kelarutan yang jelek di dalam tubuh.

“Untuk meningkatkan kelarutan dibutuhkan teknologi nanopartikel agar dapat menjadi obat herbal anti diabetes mellitus. Harapanya dengan uji disolusi dan difusi yang sudah kami lakukan dapat menjadikan isolat andropholde sambiloto untuk masuk ke tahap pembuatan obat herbal,” kata Dwi Welda.

Welda yang menjadi delegasi mahasiswa Program Studi Farmasi UII pada The 5th International Postgraduate Conference on Pharmaceutical Sciences (IPoPS 2017) di Malaysia mengatakan untuk pembuatan herbal masih membutuhkan waktu yang panjang. Di antaranya, dibutuhkan uji pra klinik (menggunakan hewan) dan uji klinik (menggunakan hewan).

Penelitian tentang Sambiloto ini juga telah mengantarkan Dwi Welda sebagai Best Oral Speaker dengan judul: Validation of a Simple HPLC-UV Method for The Quantification of Adrographolide in Self-Nano Emulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) for Dissolution Study. Ia mengharapkan penelitiannya ini dapat menghasilkan obat herbal penyakit diabetes melitus.

Lebih lanjut Welda menjelaskan, penelitian ini dilatarbelakangi banyaknya masyarakat yang menderita penhyakit diabetes. Penyakit ini merupakan salah satu
penyebab terjadinya kebutaan pada usia 20 sampai dengan 74 tahun.

Bahkan berdasarkan data WHO (World Health Organization), Indonesia menduduki peringkat keempat sebagai penderita diabetes melitus setelah India, Cina, dan Amerika. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diabetes melitus menjadi penyebab kematian kedua di Indonesia.

Penelitian tentang validasi metode isolat andrographolide pernah dilakukan Yandi Syukri tahun 2016. Namun penelitian tersebut hanya sebatas pengembangan validasi metode
analisis ekstrak dan belum adanya metode analisis kuantitatif isolat andrographolid dalam bentuk sediaan yang tervalidasi. “Hal inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan pengembangan dan validasi metode analisis kuantitatif sediaan SNEDDS dari isolat andrographolide,” tandas Welda.

 

Sumber berita : http://jogpaper.net/index.php/2017/08/06/sneeds-dapat-memodifikasi-sambiloto-jadi-antidiabetes/


Prodi Farmasi
Fakultas MIPA
Universitas Islam Indonesia
Jl Kaliurang KM 14,5 Sleman DIY
Telp: 0274-895920,896439 Ext. 3021
Fax: 0274-896439

 Twitter  Facebook  Instagram