Pak Marno: Tak Menyangka Menjadi Laboran, Malah Membuahkan Pengabdian

Menumpuk pencapaian itu baik, namun bagi Pak Marno rasa ikhlas dan syukur adalah yang utama.

Pria setengah baya dengan kemeja lengan panjang berwarna biru gelap yang digulung hingga siku menjawab salam seraya keluar dari laboratorium Farmakologi Universitas Islam Indonesia (UII). Terlihat ia masih memengang sehelai tisu guna mengusap tangannya yang sehabis dibasuh air. Barangkali ia baru saja menyentuh beberapa bahan yang berbahaya di laboratorium. Ia Sumarna, seorang laborat yang ikut mengawal tumbuh kembang Prodi Farmasi UII. Mahasiswa dan karyawan lain biasa menyapanya dengan panggilan “Pak Marno. ”Sebelum istirahat makan siang hari itu (19/2) ia menyempatkan diri berbagi kisah hidupnya.

Lelaki kelahiran 29 Oktober 1964 di Sleman ini terhitung sudah 18 tahun mengabdikan diri di Prodi Farmasi UII, yaitu semenjak Prodi ini didirikan pada tahun ajaran 1998/1999 silam. Ia mulanya tak mengira akan menjadi seorang laborat. Pasalnya, ia sama sekali tak menjajaki pendidikan sebagai staf laboratorium. ia lulus dari sebuah Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA kini SMK) di Cangkringan, Sleman, dengan jurusan Tata Buku atau yang kini dikenal sebagai akuntansi. Selepas lulus ia bekerja di laboratorium Universitas Gadjah Mada (UGM) selama tiga setengah tahun. Di sana ia mempelajari kerja-kerja di laboratorium secara langsung, tanpa pernah menerima teori khusus.

Menjadi pekerja kontrak di laboratorium UGM, Pak Marno memperkirakan kurang ada peluang untuk berkembang. “Dulu saya lihat ada teman sudah lima belas tahun bekerja tapi belum juga diangkat sebagai pegawai tetap, padahal pekerja kontrak dan tetap bayarannya jauh sekali”, jelas Pak Marno. Maka, ketika Bu Farida Hayati yang saat itu sedang menggodok pembentukan Prodi Farmasi UII dan merekrut laborat, Pak Marno pun menawarkan diri. Pihak laboratorium UGM sempat melarangnya untukpindah, namun ia ahirnya berhasil pindah dengan mengajukan kemenakannya sendiri sebagai pengganti dirinya.

Pak Marno menjadi saksi perkembangan Prodi Farmasi UII, “Dulu gedung itu FMIPA UII disebut gedung TK, karena bentuknya seperti SD Inpres”, Pak Marno mengenang. Mengasuh laboratorium Farmakologi di Prodi Farmasi UII bagi Pak Marno bukan sekedar pekerjaan, ia merasa laboratorium dan mahasiwa yang melakukan penelitian sudah menjadi hal yang harus selalu ia perhatikan. “Rasanya khawatir kalau saya tidak masuk kerja”, aku Pak Marno. Buktinya, ketika Pak Marno mendapatkan menikah pada 2001 lalu selama satu pekan, ia selalu menyempatkan diri untuk ke laboratorium kecuali pada hari pesta pernikahnnya.

 “Saya ini kan istilahnya dalam Bahasa Jawa ‘babat alas’ gitu, banyak hal saya pelajari secara otodidak”

Tak sengaja berkarier dalam dunia laboratorium adalah pengalaman paling berpengaruh dalam hidup Pak Marno. “Sayakan istilahnya dalam Bahasa Jawa ‘babat alas’ gitu, banyak hal saya pelajari secara otodidak”.  Tak dinyana memang itu jalan takdir dan kecintaannya, sekalipun setelah 18 tahun ia menjadi laborat dan masih berstatus sebagai pegawai kontrak. Soal perkara ini ia bertutur, “Dulu pernah ada pengangkatan pegawai kontrak menjadi pegawai tetap, tapi umur saya sudah lewat dari yang dipersyaratkan”. Walaupun Pak Marno berhadarap dapat menjadi pegawai tetap, namun ia sudah mensyukuri apa yang peroleh hingga saat ini.

Tak putus langkah, pernah untuk menambah penghasilan Pak Marno berternak tikus khusus bahan uji coba laboratorium. Hasilnya lumayan, karena tikus khusus untuk percobaan laboratorium harganya lebih mahal, jika dikirim keluar Jawa harganya dua kali lipat. Namun Pak Marno belum kembali menggeluti usahanya itu lagi, karena bahan pakan tikus laboratorium terhitung mahal, setara pakan ayam ternak.

 “Kalau kita ramah pada mahasiswa, kan suasana di laboratorium jadi enak dan nyaman

Rasa ikhlas sudah menjadi tuntutan hidupnya, oleh karena itu Pak Marno dengan sukarela menawarkan diri untuk mengajari mahasiswa atau siapapun yang ingin belajar tentang hal-hal di laboratorium Farmakologi sekalipun di luar jam kerja. Atas dasar rasa ikhlas itu pula Pak Marno berpesan bagi pemuda yang ingin menjadi laborat agar bersikap ramah dan sabar pada mahasiswa di laboratorium. “Kalau kita ramah pada mahasiswa, kan suasana di laboratorium jadi enak dan nyaman,” tandasnya mengakhiri obrolan.

Leave a Reply