Amazon, Berkshire, dan JPMorgan Beraliansi guna Meningkatkan Aksesibilitas terhadap Obat dan Layanan Kesehatan

By February 4, 2018DUNIA FARMASI

Distribusi obat selama ini dilakukan tanpa melibatkan sektor publik dan swasta selain yang berhubungan dengan bisnis distribusi obat. Proses distribusi obat tidak dirancang untuk melibatkan sketor publik dan swasta guna menekan biaya layanan kesehatan dan meningkatkan ketersediaan obat. Berikut diagram yang menggambarkan proses distribusi obat (FDA, 2011):

Terlihat bahwa sektor privat sangat banyak berperan dalam sistem distribusi obat, dan oleh karenanya mempunyai peran besar pula terhadap aksesibiltas layanan kesehatan. Padahal, menurut riset yang dilakukan WHO (World Health Organization), sektor publik dan privat dapat berperan lebih dalam sistem distribusi obat untuk meningkatkan ketersediaan obat dan menekan biaya layanan kesehatan. Untuk tujuan demikian WHO menyebutkan beberapa langkah yang dapat dilakukan, di antaranya:

  1. Menggunakan struktur pasar (seperti lisensi dan registrasi) dalam bidang informasi dan edukasi (seperti secara langsung menyediakan informasi dan regulasi praktik promosi).
  2. Mengontrol harga (harga distibutor maupun produsen, dan margin harga retail).
  3. engatur pemberian insentif (secara finansial atau hal lainnya)
  4. Melakukan pembiayaan (seperti skema obat masyarakat dan skema asuransi kesehatan).

Semua langkah di atas menurut riset WHO adalah demi menjadikan kinerja sektor publik lebih efisien dalam menyediakan layanan kesehatan dan ketersediaan obat. Peranan sektor privat dalam menunjang ketersediaan layanan kesehatan tersebut sudah ditunjukkan oleh tiga perusahaan besar yaitu Amazon, Berkshire, dan JPMorgan. Tiga perusahaan tersebut pada Selasa (30/1) lalu mengumukan rencananya untuk bekerja sama guna mengubah sistem ketersediaan layanna kesehatan untuk lebih dari satu juta pekerja mereka di Amerika Serikat.

Pengumuman kerja sama tersebut membawa keterkejutan pada industri kesehatan. Pasalnya tiga perusahaan tersebut mengumumkan untuk membuat perusahaan yang non-profit yang bebas insentif. Hal demikian merupakan tantangan bagi perusahaan yang berperan sebagai perantara atau makelar dalam rantai penyediaan layanan kesehatan. Para CEO perusahaan tersebut menyadari bahwa hal demikian mungkin sulit dilakukan. Namun, mereka bertekad untuk mewujudkannya dengan pertama-tama berfokus pada kondisi internalnya lalu menggunakan data mereka guna menekan biaya layanan kesehatan. Biaya kesehatan yang berpotensi untuk ditekan adalah dengan transparansi biaya kunjungan dokter dan tes laboratorium, dan pembelian secara langsung beberapa item medis.

Rencana tiga perusahaan tersebut ditanggapi oleh Ashraf Shehata, penasihat layanan kesehatan KPMG LLP di Amerika Serikat yang mengatakan ”Saya akan mendukung apapun yang menggerakkan pasar walaupun sedikit, seperti memberikan insentif pada kompetisi dan penekanan terhadap asuransi kesehatan yang besar”.

Sadar kesulitan yang mungkin dihadapi untuk melancarkan rencana tersebut, namun pernyataan CEO Amazon, Jeff Bazos, menegaskan tekad mereka untuk melakukan perubahan itu. Ia mengatakan, “Kemungkinan rencana kerja sama ini akan sulit dilakukan, mengurangi beban ekonomi layanan kesehatan selagi meningkatkan keuntungan untuk pekerja dan keluarganya. Namun hal itu patut dicoba. Kesuksesan memerlukan ekpertis yang bertalenta, mental pemula, dan orientasi jangka panjang”.

 

Sumber:

Sara Bennett, Jonathan D. Quick, Germán Velásquez,  Public-private roles in the pharmaceutical sector. WHO 1997.

Bloomberg.com

Leave a Reply